Rabu, 20 Februari 2013

Laporan Penelitian Lubang Resapan Biopori


KATA PENGANTAR        
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karenadengan limpahan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan laporan penelitian yang berjudul “Lubang Biopori yang Ramah Lingkungan dalam Penyelamatan Lingkungan”.
            Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan tugas penelitian lubang resapan biopori di lingkungan Sekolah SMA Negeri 3 Ciamis.
            Dalam penyelesaian laporan ini banyak pihak yang ikut memberikan bantuan baik material maupun spiritual. Oleh karena itu,  penulis mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Hanya doa yang dapat penulis panjatkan semoga segala bantuan yang telah diberikan mendaparkan balasan dari Allah SWT.
            Laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat kami harapkan. Saran dan kritik tersebut akan sangat bermanfaat bagi penyempurnaan makalah ini pada masa mendatang. Harapan penulis semoga keberadaan makalah ini akan banyak memberikan manfaat bagi para pembaca.













                                                                                    Ciamis, 15 Februari 2013
                                                                                                  
                                                                                            Penyusun





ABSTRAK

            Banjir yang terjadi pada awal tahun 2013 hampir merata terjadi di daerah pantai utara pulau Jawa, khususnya di kota Jakarta. Hampir di setiap musim penghujan, banjir menjadi tamu langganan di kota metropolitan tersebut. Banyak warga yang menderita kerugian besar, akibat dari bencana tersebut. Untuk menantisipasi hal itu, pemerintah sedang gencar-gencarnya menerapkan biopori di daerah Metropolitas. Kerena jika tidak di lakukan tindakan apa-apa, dikhawatirkan banjir akan semakin meluas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar manfaat biopori sebagai pencegah bahaya banjir yang di terapkan di daerah rawan banjir. Manfaat dari penelitian ini adalah agar masyarakat mengetahui manfaat dari biopori secara keseluruhan, tidak hanya sebagai pencegah bahaya banjir saja. Hasil yang di dapatkan adalah pengetahuan secara keseluruhan tentang biopori, manfaat dari penerapan biopori, perancangan lokasi pemasangan biopori yang baik, dan juga perancangan pembuatan biopori yang efektif. 
Kata-kata kunci: banjir, biopori, daerah Metropolitan.








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…...............................................................................I
ABSTRAK…................................................................................................II
DAFTAR ISI….............................................................................................III
BAB I.            PENDAHULUAN
            1.1   Latar Belakang….......................................................................IV
            1.2   Rumusan Masalah…...................................................................V
            1.3  Tujuan Penelitian..........................................................................V
            1.4  Manfaat Penelitian…....................................................................V          
            1.5  Batasan Istilah…..........................................................................VI
BAB II.           PEMBAHASAN
            2.1       Pengertian Biopori…...............................................................1
            2.2       Manfaat Biopori…..................................................................4
            2.3       Perancangan Lokasi…............................................................7
            2.4       Perancangan Pembuatan…......................................................8
            2.5       Jumlah yang Disarankan….....................................................12
            2.6       Biaya yang Dikeluarkan…......................................................13
            2.7       Cara Pemeliharaan Biopori.....................................................13

BAB III.         PENUTUP
            3.1       Kesimpulan…........................................................................14
            3.2       Saran…..................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA…................................................................................15
DOKUMENTASI…......................................................................................17                                                       







BAB I
PENDAHULUAN
  1.1            LATAR BELAKANG
            Pemanfaatan sumber daya alam yang berupa tanah dan air sebagai salah satu modal dasar pembangunan nasional, harus dilaksanakan sebaik-baiknya berdasarkan azas kelestarian, keserasian dan azas pemanfaatan yang optimal, yang dapat memberikan manfaat ekonomi, ekologi dan sosial secara seimbang.
            Penggunaan pemanfaatan tanah dan lahan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi dan melampaui kemampuan daya dukungnya, akan menyebabkan terjadinya lahan kritis. Disamping itu perilaku masyarakat yang belum mendukung pelestarian tanah dan lingkungan  menyebabkan terjadinya bencana alam banjir pada musim penghujan.
            Untuk menghindari hal tersebut di atas perlu dilakukan upaya pelestarian lahan kritis, dan pengembangan fungsi biopori terus ditingkatkan dan disempurnakan. Biopori pada lahan kritis dimaksudkan untuk memulihkan kesuburan tanah, melindungi tata air, dan kelestarian daya dukung lingkungan.
            Dalam rangka pemanfaatan sumber daya alam baik berupa tanah dan air perlu direncanakan dan dikelola secara tepat melalui suatu sistem pengelolaan Lubang Resapan Biopori (LRB). Salah satu upaya pokok dalam pengelolaan LRB adalah berupa pengaturan keseimbangan pada lingkungan yang kurang daerah peresapan. 
            Dari aspek perencanaan ditempuh melalui penyempurnaan pembuatan biopori di lingkungan sekitar masyarakat. Di akspek inilah diharapkan akan dapat menjadi acuan pelaksanaan pembuatan biopori oleh semua kalangan masyarakat. Biopori secara umum, dapat mengurangi resiko bahaya banjir di daerah yang kurang lahan peresapan air. Tidak hanya sebagai pencegah banjir, penerapan biopori yang secara rutuin akan menghasilkan pupuk kompos yang sangat bermanfaat.

  1.2            RUMUSAN MASALAH
            Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Apa yang dimaksud dengan biopori?
2.      Apa saja manfaat yang didapatkan dari biopori untuk penyelamatan lingkungan?
3.      Lokasi manakah yang lebih efisien untuk pemasangan biopori?
4.      Bagaimana cara pembuatan biopori yang efisien dan efektif?
5.      Berapa jumlah biopori yang harus dibuat, agar terhindar dari bahaya banjir?
6.      Berapa biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan biopori?
7.      Bagaimana cara memelihara biopori agar tetap bagus?

  1.3            TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan latar belakang masalah, penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Mengetahui pengaertian dari biopori
2.      Mengetahui manfaat yang didapatkan dari biopori untuk penyelamatan lingkungan
3.      Mengetahui lokasi yang lebih efisien untuk pemasangan biopori
4.      Mengetahui cara pembuatan biopori yang efisien dan efektif
5.      Mengetahui jumlah biopori yang disarankan
6.      Mengetahui biaya yang dikeluarkan dari pembuatan biopori
7.      Mengetahui cara memelihara biopori agar kondisinya tetap bagus

  1.4            MANFAAT PENELITIAN
Adapaun manfaat penelitian yang diharapkan adalah sebagai berikut :
1.      Terketahuinya pengertian  dari biopori.
2.      Terketahuinya manfaat yang didapatkan dari biopori untuk penyelamatan lingkunagn.
3.      Terketahuinya lokasi yang lebih efisien untuk pemasagan biopori.
4.      Terketahuinya cara pembuatan biopori yang efisien dan efektif.
5.      Terketahuinya jumlah biopori yang disarankan.
6.      Terketahuinya biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan biopori.
7.      Terketahuinya cara memelihara biopori agar tetap bagus kondisinya.

  1.5       BATASAN ISTILAH
            Dalam hal ini penulis menggunakan kata ‘Biopori’ sebagai batasan istilah. Penulis memilih ‘Biopori’ sebagai batasan istilah, karena sebagian besar masyarakat belum banyak yang mengetahui dan memahami istilah tersebut. Oleh karena itu, untuk membahas masalah ini penulis menggunakan tiga pandangan sebagai tinjauan untuk mendefinisikan arti kata ‘Biopori’.
            Bila ditinjau dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah biopori masih belum ditemukan.
            Sedangkan bila ditinjau dari asal kata, biopori terdiri dari dua kata yaitu ‘bio’ yang berarti hidup dan ‘pori’ yaitu pori-pori yang bermanfaat(Plasa Teen, 2009).
            Dan ada juga yang menyebut biopori “mulsa vertical”, karena ini mengandalkan jasa hewan-hewan tanah seperti cacing dan rayap untuk membentuk pori-pori alami dalam tanah, dengan bantuan sampah organik, sehingga air bisa terserap dan struktur tanah diperbaiki(http://Lubang Resapan Biopori « Yayasan Prana-Nasional Indonesia.htm/, diakses 31 Desember 2009).












 BAB II
PEMBAHASAN

            Pembuatan lubang biopori merupakan solusi teknologi ramah lingkungan untuk mengatasi ketersediaan air tanah dengan memanfaatkan sampah organik melalui lubang kecil dalam tanah. Air dan sampah adalah dua hal yang tidak akan lepas dari kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia. Setiap manusia setiap hari menghasilkan sampah dari aktifitas hidupnya. Terkadang sampah menjadi sumber masalah pencemaran lingkungan, padahal sampah mempunyai potensi besar dalam menyelamatkan lingkungan, jika diperlakukan secara arif dan bijaksana. Sementara air, sangat penting bagi makhluk hidup. Tanpa air, makhluk hidup akan mati. oleh karena itu, perlu dilakukan pengolahan air dan sampah untuk melangsungkan kehidupan.
            Pembuatan biopori dapat dilakukan dimana saja, dengan ketersediaan tanah yang tidak terlalu luas. Teknologi yang dikembangkan oleh Kamir (2006) ini sangat cocok diterapkan di wilayah perkotaan yang tanahnya penuh bangunan sehingga penyerapan air menjadi minim. Dengan memanfaatkan lubang kecil dan sampah organik maka wilayah perkotaan yang terlihat kering dan gersang akan berubah menjadi wilayah yang ramah lingkungan. Disamping itu, sampah organik yang tersimpan didalam lubang, dapat dijadikan sebagai sumber penghasil kompos yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.
2.1  PENGERTIAN BIOPORI
            Banyak orang yang belum mengetahui arti, makna atau pengertian dari istilah ‘biopori’, tetapi ada juga yang sudah paham arti dari istilah tersebut,  dan ada beberapa yang hanya sekedar tahu, tapi pemahamannya belum. Oleh karena itu, penulis akan memaparkan pengertian dari istilah ‘biopori’ dalam berbagai pendapat, yaitu:
1.                  Biopori menurut Griya (2008) lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.
2.                  Ir. Kamir R. Brata, Msc dari Institut Pertanian Bogor (2008)  menjelaskan biopori adalah lubang sedalam 80-100cm dengan diameter 10-30 cm, dimaksudkan sebagi lubang resapan untuk menampung air hujan dan meresapkannya kembali ke tanah. Biopori memperbesar daya tampung tanah terhadap air hujan, mengurangi genangan air, yang selanjutnya mengurangi limpahan air hujan turun ke sungai. Dengan demikian, mengurangi juga aliran dan volume air sungai ke tempat yang lebih rendah, seperti Jakarta yang daya tampung airnya sudah sangat minim karena tanahnya dipenuhi bangunan.
3.        Tim Biopori IPB (2007) menguraikan bahwa biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap, dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.
        Diatas adalah beberapa pendapat tentang pengertian dari ‘biopori’, untuk selanjutnya penulis akan memaparkan tentang pengertian dari lubang biopori. Dalam hal ini, banyak pendapat dari beberapa ahli mengenai ‘lubang biopori’. Untuk itu, pembaca diharapkan bisa mencermati dan sekaligus memahami arti dari istilah tersebut.
1.      Ir. Kamir R. Brata, Msc dari Institut Pertanian Bogor (2009) telah mengartikan Lubang resapan biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah.
2.      Lubang biopori adalah lubang yang dengan diameter 10 sampai 30 cm dengan panjang 30 sampai 100 cm yang ditutupi sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk tumbuh-tumbuhan (Anonim, 2008).
3.      Menurut Jhon Herf(2009), lubang resapan biopori (LRB) adalah lubang silindris yang dibuat ke dalam tanah dengan diameter sepuluh sampai dengan tiga puluh sentimeter. Pada leaflet Biopori dijelaskan, kedalamannya sekitar seratus sentimeter atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi sampah organik untuk mendorong terbentuknya biopori. Biopori adalah pori berbentuk liang (terowongan kecil) yang dibentuk oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman.
4.      Bila dilihat secara alami, lubang biopori adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.(http://mengenal-dan-memanfaatkan-lubang-biopori.html/, diakses  31 Desember 2009).
5.      Oasezam blog (2009) mendefinisikan biopori adalah lubang sedalam 80-100cm dengan diameter 10-30 cm yang dimaksudkan sebagai lubang resapan untuk menampung air hujan dan meresapkannya kembali ke tanah. Biopori memperbesar daya tampung tanah terhadap air hujan, mengurangi genangan air, yang selanjutnya mengurangi limpahan air hujan turun ke sungai. Dengan demikian, mengurangi juga aliran dan volume air sungai ke tempat yang lebih rendah, seperti Jakarta yang daya tampung airnya sudah sangat minim karena tanahnya dipenuhi bangunan.
6.      Lubang Resapan Biopori menurut Peraturan Menteri Kehutanan Nomor:P.70/Menhut-II/2008/Tentang Pedoman Teknis Rehabilitasi Hutan dan Lahan, adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktivitas organisme di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap, dan fauna tanah lainnya. Lubang - lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. 
          Pengertian tentang ‘biopori’ dan ‘lubang biopori’ telah penulis jelaskan dengan beberapa pendapat yang berbeda dari berbagai kalangan. Untuk lebih memahami dari penjelasan diatas, penulis pada bagian ini akan menampilkan beberapa gambar tentang biopori.
           Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 - 30 cm dan kedalaman sekitar 100 cm, atau dalam kasus tanah dengan permukaan air tanah dangkal, tidak sampai melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi dengan sampah organik untuk memicu terbentuknya biopori. Biopori adalah pori-pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman.
2.2  MANFAAT BIOPORI
Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari biopori, bila kita mau menerapkannya di lingkungan sekitar. Namun, hasil penerapan biopori akan lebih memuaskan jika kita semua mau bergotong-royong untuk menerapkannya secara bersama-sama di lingkungan. Semakin banyak yang menerapkan, maka semakin besar manfaat yang kita peroleh. Dalam hal ini, penulis akan menyebutkan semua manfaat dari diterapkannya biopori dalam lingkungan adalah sebagai berikut
1.      Griya (2008) menguraikan manfaat biopori sebagai berikut:
a.       Mencegah banjir
Banjir sendiri telah menjadi bencana yang merugikan bagi warga Jakarta. Keberadaan lubang biopori dapat menjadi jawaban dari masalah tersebut. Bayangkan bila setiap rumah, kantor atau tiap bangunan di Jakarta memiliki biopori berarti jumlah air yang segera masuk ke tanah tentu banyak pula dan dapat mencegah terjadinya banjir. Berkurangnya ruang terbuka hijau menyebabkan berkurangnya permukaan yang dapat meresapkan air kedalam tanah di kawasan permukiman. Peningkatan jumlah air hujan yang dibuang karena berkurangnya laju peresapan air kedalam tanah akan menyebabkan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
b.      Tempat pembuangan sampah organic
Banyaknya sampah yang bertumpuk juga telah menjadi masalah tersendiri di kota Jakarta. Kita dapat pula membantu mengurangi masalah ini dengan memisahkan sampah rumah tangga kita menjadi sampah organik dan non organik. Untuk sampah organik dapat kita buang dalam lubang biopori yang kita buat.
c.       Menyuburkan tanaman
Sampah organik yang kita buang di lubang biopori merupakan makanan untuk organisme yang ada dalam tanah. Organisme tersebut dapat membuat sampah menjadi kompos yang merupakan pupuk bagi tanaman di sekitarnya.
d.      Meningkatkan kualitas air tanah
Organisme dalam tanah mampu membuat samapah menjadi mineral-mineral yang kemudian dapat larut dalam air. Hasilnya, air tanah menjadi berkualitas karena mengandung mineral.
2.      Sedangkan manfaat lubang resapan biopori menurut Perpustakaan Online (2008) adalah:
a.       Memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah air tanah.
b.      Membuat kompos alami dari sampah organik daripada dibakar.
c.       Mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit.
d.      Mengurangi air hujan yang dibuang percuma ke laut.
e.       Mengurangi resiko banjir di musim hujan.
f.       Maksimalisasi peran dan aktivitas flora dan fauna tanah.
g.      Mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor.
3.  Tim Biopori IPB (2009) menjelaskan keunggulan dan manfaat biopori sebagai  berikut:
Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara
a)      Meningkatkan daya resapan air
            Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom atau dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm 2 atau hampir 1/3 m 2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78,5 cm 2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm 2.
            Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu, bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air. Dengan demikian kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air.
b)      Mengubah sampah organik menjadi kompos
            Lubang resapan biopori ‘diaktifkan’ dengan memberikan sampah organik kedalamnya. Sampah ini akan dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompoisi ini dikenal sebagai kompos.. Dengan melalui proses seperti itu maka lubang resapan biopori selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga sekaligus berfungsi sebagai "pabrik" pembuat kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, sayuran, dan jenis tanaman lainnya. Bagi mereka yang senang dengan budidaya tanaman atau sayuran organik maka kompos dari LRB adalah alternatif yang dapat digunakan sebagai pupuk sayurannya.
c)      Memanfaatkan Peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman
       Seperti disebutkan di atas, Lubang Resapan Biopori (LRB) diaktikan oleh organisme tanah, khususnya fauna tanah dan perakaran tanaman. Aktivitas merekalah yang selanjutnya akan menciptakan rongga-rongga atau liang-liang di dalam tanah yang akan dijadikan "saluran" air untuk meresap ke dalam tubuh tanah. Dengan memanfaatkan aktivitas mereka maka rongga-rongga atau liang-liang tersebut akan senantiasa terpelihara dan terjaga keberadaannya sehingga kemampuan peresapannya akan tetap terjaga tanpa campur tangan langsung dari manusia untuk pemeliharaannya. Hal ini tentunya akan sangat menghemat tenaga dan biaya. Kewajiban faktor manusia dalam hal ini adalah memberikan pakan kepada mereka berupa sampah organik pada periode tertentu. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan menjadi humus dan tubuh biota dalam tanah, tidak cepat diemisikan ke atmosfer sebagai gas rumah kaca; berarti mengurangi pemanasan global dan memelihara biodiversitas dalam tanah.

4.   Jhon Herf (2008) dalam blognya menuliskan sepuluh manfaat dari biopori, diantaranya adalah:
 a.  Memelihara cadangan air tanah.
b.    Mencegah terjadi keamblesan (subsidence) dan keretakan tanah.
c.    Menghambat intrusi air laut.
e.    Mengubah sampah organik menjadi kompos.
f.     Meningkatkan kesuburan tanah.
g.    Menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah.
       h.    Mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya genangan air seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah.
i.  Mengurangi masalah pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan.
                   j.     Mengurang emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan).
k.  Serta mengurangi banjir, longsor, dan kekeringan.
2.3  PERENCANAAN LOKASI
            Dalam hal perancangan  pembuatan biopori, agar kinetik kerja biopori lebih maksimal perlu tempat-tempat yang khusus dan tepat. Jika kita menempatkan biopori ditempat yang tepat, maka biopori tersebut akan lebih leluasa dalam segi kinerjanya dan  hasil yang kita terima pun akan lebih maksimal. Oleh karena itu, perlu perhatikan secara cermat untuk memilih lokasi pemasangan biopori. Dalam sub-sub bab ini, penulis akan menjelaskan pemilihan  tempat perancangan biopori dari beberapa sumber, yaitu:
1.    Sumber pertama menurut  Perpus Online (2008) dalam penjelasannya ada tiga
lokasi yang disarankan dan ketiga lokasi itu juga disertai gambar yang mendukung. Inilah ketiga lokasi tersebut :
1.   Pada alas saluran air hujan di sekitar rumah, kantor, sekolah, dsb.
2. Di sekeliling pohon.
3. Pada tanah kosong antar tanaman atau batas tanaman.
2. Adapun Persyaratan Lokasi menurut Peraturan Menteri Kehutanan Republik                         Indonesia /Nomor : P. 32/MENHUT-II/2009 /Tentang Tata Cara Penyusunan         Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai (RTkRHL-DAS), menyebutkan untuk setiap 100  lahan idealnya Lubang Resapan Biopori (LRB) dibuat sebanyak 30 titik dengan jarak antara 0,5 - 1 m. Dengan kedalam 100 cm dan diameter 10 cm setiap lubang bisa menampung 7,8 liter sampah. Sampah dapur dapat menjadi kompos dalam jangka waktu 15-30 hari, sementara sampah kebun berupa daun dan ranting bisa menjadi kompos dalam waktu 2-3 bulan.
2.4  PERENCANAAN PEMBUATAN
            Setelah kita mengetahui pemahaman tentang biopori, manfaat apa saja yang dapat kita peroleh dari penerapannya, dan lokasi perencanaan yang tepat untuk biopori. Maka langkah terakhir yaitu kita tinggal mempraktekkan bagaimnan cara pembuatan biopori yang disarankan oleh para ahli. Dari sinilah kita bisa tahu cara pembuatannya secara langsung, karena penulis tidak hanya menggunakan kata atau bahkan kalimat saja untuk menjelaskan cara pembuataannya. Tapi juga dengan gambar, diharapkan dengan adanya gambar ini pembaca tidak terlalu mengalami kesulitan dalam memahaminya, berikut beberapa sumber tentang perencanaan pembuatan biopori:
1.      Proses pembuatan biopori (http://mengenal-dan-memanfaatkan-lubang-biopori.html/ diakses 31 Desember 2009), dibagi dalam 2 tahap, yaitu
a.       Tahap pembuatan
                  Membuat lubang biopori bukan pekerjaan susah, hanya memang memerlukan daya yang cukup besar. Kedalaman lubang yang disarankan adalah 80-100 cm, kedalaman yang memungkinkan organisme pengurai bekerja dengan optimal. Sedangkan diameter yang disarankan adalah 10-30 cm. Karena membuat di halaman rumah, maka 10 cm lebih proporsional. Lalu  menggali lubang-lubang secara manual menggunakan peralatan sederhana seperti pipa paralon, bambu, dan linggis. Jika ketemu lapisan batu penggalian dialihkan ke titik lain. Jika tanah terlalu keras dasar lubang diairi secukupnya dan penggalian diteruskan setelah air meresap. Sebenarnya IPB menyediakan alat bor tapi pada saat itu saya belum berpikir untuk berinvestasi. Setelah lima hari, jadilah sebanyak 34 lubang silinder dan empat lubang memanjang. Meskipun angka ini sebenarnya terlalu banyak, tapi saya tidak menyesalinya.
                  Penggalian lubang dilakukan pertengahan Februari ketika Bogor sedang mengalami puncak musim hujan. Waktu yang lebih baik tentu saja ketika hujan tidak sedang turun. Saya memilih loster sebagai penutup lubang. Loster biasanya digunakan sebagai lubang angin yang dipasang di dinding WC atau dinding rumah yang menghadap keluar. Satu buah loster dipotong untuk dua lubang. Untuk memperkuat kedudukan loster sekeliling mulut lubung disemen sehingga cukup kokoh jika kita berjalan di atasnya. Dengan ditutupnya lubang kaki tidak akan kejeblos, apalagi anak saya masih kecil-kecil dan senang bermain-main di halaman.
b.      Tahap pengisian
                  Sekarang waktunya membuang sampah, maksudnya mengisi lubang biopori. Tapi sebelum dimasukkan pilahlah terlebih dahulu sampah organik dan sampah non-organik. Karena melalui fermentasi sampah organik dengan bantuan aktivator EM4 dapat menghasilkan pupuk biokasi. Agar tidak bingung dalam memilah sampah, maka sediakan dua tempat sampah, sebut saja S (sampah) dan B (biopori), yang masing-masing diberi kantong plastik. Pada prinsipnya semua bahan dari makhluk hidup masuk dalam kategori organik. Namun untuk mengisi tempat sampah B hanya untuk bahan-bahan yang lebih mudah terurai seperti sisa sayur dan potongan tempe/daging/ikan yang tidak terpakai. Juga sisa makanan yang tidak habis dimakan, sisa makanan lain seperti roti dan cemilan, ampas kopi, dan kantung teh celup, masuk ke B.
                  Tulang ayam dan tulang sapi, bonggol jagung, serta kulit telur walaupun masuk kategori organik, dimasukkan ke tempat sampah S. Di tempat sampah ini bergabung kertas, besi, plastik, kayu, kain, dan benda-benda lain yang tidak mungkin atau sulit terurai. Kantong plastik juga disatukan ke tempat sampah S yang selanjutnya di tempatkan di bak sampah luar rumah.
                  Sesekali waktu, bila ada sampah yang berasal  tumbuhan, misalnya setelah merapikan tanaman dengan memotong daun, bunga yang mulai layu, sulur yang kepanjangan, atau memotong rumput dan ranting pohon seperlunya. Sampah yang dihasilkan dari proses ini langsung dimasukkan ke lubang-lubang terdekat. Agar merapat ke dasar, bumbungan sampah hijau ini didorong dengan tongkat.
2.      Cara Pembuatan Lubang Biopori Resapan Air ada empat tahap yaitu:
a.       Membuat lubang silindris di tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 30-100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm.
b.      Mulut lubang dapat dikuatkan dengan semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 sentimeter serta diberikan pengaman agar tidak ada anak kecil atau orang yang terperosok.
c.       Lubang diisi dengan sampah organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur non kimia, dsb. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami.
d.      Jumlah lubang biopori yang ada sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air, dan wilayah yang tidak meresap air dengan  rumus = intensitas   hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegi) / laju resapan air perlubang (liter / jam).
3.      Jika menurut TIM Biopori dari IPB(2007), menyeburkan cara pembuatan biopori sangat mudah sekali untuk diterapkan di lingkungan sekitar. Pembuatan biopori ada lima tahap, yaitu:
a.       Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diamter 10 cm. Kedalaman kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah bila air tanahnya dangkal. Jarak antar lubang antara 50 - 100 cm.
b.      Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2 - 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang.
c.       Isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau pangkasan rumput.
d.      Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan.
e.       Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.
4.      Cara pemuatan biopori menurut Salman (2009) bisa dilakukan dilorong samping rumah. Ini tentu sangat menguntungkan sekali bagi para warga yang tidak mempunyai lahan luas untuk biopori. Dalam hal ini Salman, menjelaskan cara pembuatan biopori yang dilakukan di lorong samping rumahnya beserta gambarnya. Langkah-langkah pembuatannya adalah
a.       Persiapan bahan-bahan yang diperlukan.
-          Paralaon
-          Kasa nyamuk
-          Biopori
b.      Cara pembuatan
-          Lokasi lubang pertama, dipilihlah halaman belakang yang tanahnya hanya berukuran 140 x 40 cm, tapi menjadi tempat lewat air hujan dan pancuran air tempat mencuci macam-macam.  Cukup untuk menjadi 2 buah lubang dengan jarak 100 cm.
-          Persiapan awal, batu-batu gosok yang menutupi tanah dikumpulkan dan dibersihkan dulu, supaya tidak ikut jatuh ke lubang.  
-          Mata bor memudahkan penggalian dan pengangkatan tanah galian, dan mencetak lubang berdiameter 10cm. Dengan bor khusus ini, kita bisa dengan mudah membuat lubang dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100 cm. 
-          Untuk menggali, putar bor searah jarum jam, jangan dibalik.  Demikian pula pada saat mengangkat tanah galian, tetap searah jarum jam hanya sedikit demi sedikit diangkat ke atas.
-            Hasil galian pertama Tampungan tanah liat
-       Menggali lubang kedua yang berjarak 100 cm dari lubang pertama
-          Selanjutnya memotong paralon sepanjang 20 cm, untuk dijadikan penahan dinding lubang supaya tanah di atasnya tidak mudah jatuh/turun.
-          Kedalaman dinding paralon tidak usah terlalu dalam, karena fungsinya hanya untuk menahan tanah jatuh
-          Lubang biopori kan kadang-kadang harus dibuka untuk diisi limbah, dan supaya baunya tidak menyeruak ke atas,  juga harus ditutup dan ditimbuni batu sedikit.
-          Syarat lain adalah air di atasnya harus tetap bisa mengalir masuk.
-          Biopori sudah selesai. Seperti bukan lubang peresapan
6.    Cara pembuatan bopori menurut Oasezam weblog.htm (2009) hampir sama dengan konsep Salman (2009), yang membedakan hanyalah dalam segi metode peralatannya saja. Kalau Oaezam menggunakan metode yang modern, tapi Salman menggunakan metode yang sederhana. Berikut ini adalah cara pembuatan menurt oaezam adalah
a. Buatlah lubang sedalam 80 – 100 cm dengan diameter 10 – 30 cm.
b. Masukkan daun daunan kering ke dalam lubang
c. Tutuplah dengan Loster

2.5           JUMLAH BIOPORI YANG DISARANKAN 
Jumlah lubang yang perlu dibuat dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
                          Jumlah LRB = Intensitas hujan(mm/jam) x Luas bidang kedap (m2)
                                                        Laju Peresapan Air per Lubang (liter/jam)

Sebagai contoh, untuk daerah dengan intensitas hujan 50 mm/jam (hujan lebat), dengan laju peresapan air perlubang 3 liter/menit (180 liter/jam) pada 100 m2 bidang kedap perlu dibuat sebanyak (50 x 100) / 180 = 28 lubang.
Bila lubang yang dibuat berdiameter 10 cm dengen kedalaman 100 cm, maka setiap lubang dapat menampung 7.8 liter sampah organik. Ini berarti bahwa setiap lubang dapat diisi dengan sampah organik selama 2-3 hari. Dengan demikian 28 lubang baru dapat dipenuhi dengan sampah organik yang dihasilkan selama 56 - 84 hari. Dalam selang waktu tersebut lubang yang pertama diisi sudah terdekomposisi menjadi kompos sehingga volumenya telah menyusut. Dengan demikian lubang-lubang ini sudah dapat diisi kembali dengan sampah organik baru dan begitu seterusnya.


2.6  BIAYA YANG DIKELUARKAN
Jhon herf(2008)Pembuatan LRB dipermudah dengan alat bor tanah. Desainnya disesuaikan untuk kegunaan peresapan air yang memakai pendekatan Biopori. Alat bor LRB juga diperlukan untuk mempermudah pemanenan kompos yang terbentuk bersamaan dengan pemeliharaan LRB.
Bila satu lubang LRB dapat dibuat dalam waktu sepuluh menit, tiap rumah tangga perlu membuat 30 LRB. Itu artinya pekerjaan selesai dalam waktu 300 menit (lima jam). Jadi, perlu sehari per orang kerja (Rp 35 000,-).
Bila setiap rumah tangga ingin memiliki bor LRB dengan harga bor Rp175.000,00 –Rp200.000,00), maka diperlukan biaya (Rp205 000,00 – Rp235 000,00). Biaya itu dapat berkurang bila satu bor tanah dimiliki bersama oleh beberapa orang.
2.7  PEMELIHARAAN BIOPORI
            Agar biopori yang telah kita buat bisa bertahan lama, maka ada beberapa yang harus anda lakukan untuk memelihara kondisi biopori, diantaranya adalah:
1.      Lubang Resapan Biopori harus selalu terisi sampah organik
2.      Sampah organik dapur bisa diambil sebagai kompos setelah dua minggu, sementara  sampah kebun setelah dua bulan. Lama pembuatan kompos juga tergantung jenis tanah  tempat pembuatan LRB, tanah lempung agak lebih lama proses       kehancurannya. Pengambilan dilakukan dengan alat bor LRB.
3.      Bila tidak diambil maka kompos akan terserap oleh tanah, LRB harus tetap dipantau supaya terisi sampah organik.


BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
            Lubang Resapan Biopori (LRB) secara umum adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktivitas organisme di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang - lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. LBR ini merupakan salah satu upaya strategis untuk meminimalisir terjadinya bencana banjir. Salah satu penyebab bencana banjir adalah karena kurangnya lahan untuk peresapan air, bila air hujan turun secara berlebihan maka air tersebut tidak bisa menyerap ke dalam tanah seluruhnya. Untuk menghindari hal itu, maka perlu kebijakan terbaru untuk menerepkan pengembangan biopori di lingkungan. Dalam aspek penerapan biopori tidaklah terlalu menghabiskan biaya yang terlalu banyak dan cara pembuatannya pun cukup sederhana. Cukup membuat beberapa lubang di sekitar lingkungan, kemudian lubang tersebut dapat diisi dengan sampah organik. Tapi dalam memasukkan sambah organik jangan terlalu rapat, beri celah-celah udara agar organisme tanah bisa mencerna sampah tersebut. Baru setelah itu tutup lubang biopori. Bila dilihat dari segi manfaatnya, biopori memiliki banyak keuntungan, yaitu bisa mencegah banjir, menyuburkan tanah, menghasilkan pupuk kompos, dan sebagainya. Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk segara menerapkan biopori di lingkungan masing-masing. Jika sebagian besar masyarakat telah banyak yang menerapkan biopori, maka kita tidak perlu khawatir lagi pada musim penghujan.
3.2  SARAN         
            Makalah ini membahas seluruh aspek dari biopori, yaitu definisi, manfaat, lokasi pembuatan, cara pembuatan, jumlah yang disarankan, biaya pembuatan, dan pemiliharaannya. Dan makalah ini sangat cocok untuk seluruh masyarakat yang ingin menerapkan lubang resapan biopori (LRB). Tapi tidak menutup kemungkinan, yang hanya sekedar ingin tahu lebih jelas tentang biopori juga sangat dianjurkan untuk membaca makalah ini. Karena dengan membaca, kita akan mendapatkan wawasan. Dan wawasan tersebut, dapat kita sampaikan kepada teman-teman yang belum mengetahui tentang biopori dan juga sekaligus sebagai upaya untuk mensukseskan penerapan biopori di Indonesia ini. Karena akhir-akhir ini banyak terjadi banjir yang menggenangi kota-kota di Indonesia, khususnya di kota-kota yang lahannya kritis.
DAFTAR PUSTAKA

Prana, Y. 2009. Lubang Resapan Biopori. (Online). (http://Yayasan-Prana-Nasional-Indonesia.wordpress.com, diakses 31 Desember 2009).
Salman. 2008. Biopori Pertama di Rumah. (Online). (http://Perempuan-Banget!.wordpress.com, diakses 31 Desember 2009).
Herf, Jhon. 2008. Biopori sebagai Peresapan Air yang Mengatasi Banjir dan Sampah. (Online). (http://jhonherf.wordpress.com, diakses 31 Desember 2009).
Griya. 2008. Mengenal dan Memanfaatkan Lubang Biopori. (Online). (http://kumpulaninfo.com, diakses 31 Desember 2009).
Yusuf, Muhammad. 2009. Solusi Banjir dengan Membuat Biopori. (Online). (http://OaseZam-WeBloG.com, diakses 31 Desember 2009).
Biopori, TIM IPB. 2007. Biopori Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan-Alat dan Pemesanan Alat. (Online). (http://biopori.com, diakses 31 Desember 2009).
Anonim. 2007. Mencegah banjir Lewat Lubang Serapan Biopori. Suara Merdeka, (Online), (http://Nules-Nules.wordpress.com, diakses 31 Desember 2009).
R, Kamir Brata. 2009. Lubang Resapan Biopori untuk Mitigasi Banjir, Kekeringan dan Perbaikan. Prosiding Seminar Lubang Biopori (LBR) dapat Mengurangi Bahaya banjir di Gedung BPPT 2009. Jakarta.
Anonim. 2008. Pengertian Biopori dan Cara Membuat Lubang Resapan Biopori Air (LRB) pada Lingkungan Sekitar Kita. (Online). (http://organisasi.org.com, diakses 29 Desember 2009).
Anonim. 2008. Biopori. (Online). (http://wikipedia-bahasa-Indonesia-ensiklopedia-bebas.com, diakses 29 Desember 2009).
Biopori, TIM IPB. 2007. Biopori Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan-Pengantar. (Online). (http://biopori.com, diakses 29 Desember 2009).
San. 2008. Biopori di Halaman Rumah. (Online). (http://titik-mol.wordpress.com, diakses 29 Desember 2009).
Anonim. 2009. Jakarta Butuh 76 Juta Lubang Biopori. Republika, (Online), (http://diglib-AMPL.com, diakses 29 Desember 2009).
Biopori, TIM IPB. 2007. Biopori Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan-Jumlah LRB yang disarankan. (Online). (http://biopori.com, diakses 29 Desember 2009).
Biopori, TIM IPB. 2007. Biopori Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan-Keunggulan dan Manfaat. (Online). (http://biopori.com, diakses 29 Desember 2009).
Biopori, TIM IPB. 2007. Biopori Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan-Lokasi Pembuatan. (Online). (http://biopori.com, diakses 29 Desember 2009).
Biopori, TIM IPB. 2007. Biopori Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan-Peringati hari Bumi, Bogor buat 5250 Biopori. (Online). (http://biopori.com, diakses 29 Desember 2009).
Biopori, TIM IPB. 2007. Biopori Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan-Cara Pembuatan. (Online). (http://biopori.com, diakses 29 Desember 2009).
Biopori, TIM IPB. 2007. Biopori Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan-Jumlah LRB yang disarankan. (Online). (http://biopori.com, diakses 29 Desember 2009).
Biopori, TIM IPB. 2007. Biopori Teknologi Tepat Guna Ramah Lingkungan-Lubang Resapan Biopori (LBR). (Online). (http://biopori.com, diakses 29 Desember 2009).
Tirza, Pratama. 2009. Ada yang Baru. Plasa Teen, 20 Maret, hlm. 6-7.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar